Kamis, 29 Oktober 2015

MENGAMBIL KEPUTUSAN

Kali ini saya dengan kelompok membahas tentang materiPengambilan Keputusan Teori Organisasi Umum 2#


A.   TUJUAN DAN SASARAN ORGANISASI
1.      Meningkatkan Ketakwaan Siswa/i
2.      Meningkatkan Kedisiplin Siswa/i
3.      Meningkatkan Kebugaran & Menjaga Kesehatan Siswa/i


B.   IDENTIFIKASI MASALAH
Membuat kagiatan yang dapat memenuhi keempat tujuan organisasi dan mengisi waktu luang murid-murid.

C.   ALTERNATIF
1.      Mewajibkan Siswa/i Mengikuti Ekskul Beladiri
2.      Mengadakan Acara Kultum Sebelum Masuk Kekelas
3.      Mengadakan Senam Bersama 1 Kali Seminggu
4.      Mengadakan Acara Keputrian Saat Murid Laki-Laki Sholat Jumat

D.   KEPUTUSAN MEMILIH 1 ALTERNATIF TERBAIK
1.      Alternatif  1  dapat menunjang  tujuan organisasi poin                 2,3
2.      Alternatif  2  dapat menunjang  tujuan organisasi poin                 1,2,4
3.      Alternatif  3  dapat menunjang  tujuan organisasi poin                2,3
4.      Alternatif  4  dapat menunjang  tujuan organisasi poin                1,2,4
(Namun tidak  berlaku bagi murid laki-laki)

E.    KEPUTUSAN YANG DIAMBIL
Melaksanakan alternatif 2 karna dapat menunjang 3 poin tujuan organisasi
F.    PELAKSANAAN KEGIATAN
      Kultum diadakan sebelum siswa/i masuk kekelas, bertempat diaula, mulai pukul 06:30 – 07:00 dengan materi kultum menyangkut masalah aqidah, keagamaan, kedisiplinan, motivasi dan lain-lain, siswa/i diatur berdasarkan jurusan, dan siswa/i non-islam disediakan ruangan khusus saat penyampaian materi keagamaan
G.   EVALUASI HASIL PELAKSANAAN
      Dengan diadakannya acara kultum diaula sekolah saat pagi hari, menyebabkan siswa/i yang terlambat  tidak dikenakan sanksi karena panitia  acara memprioritaskan siswa/i untuk mengikuti kultum.

Kamis, 15 Oktober 2015

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Menurut Stewart L. Tubbs,komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti rasetnik, atau perbedaan-perbedaan sosio ekonomi).Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi
Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain.Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.
Intercultural communication generally refers to face-to-face interaction among people of diverse culture.
Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok. Selanjutnya komunikasi antarbudaya itu dilakukan:
  1. Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan
  2. Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama;
  3. Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita
  4. Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan pelbagai cara.

FUNGSI-FUNGSI KOMUNIKASI ANTARBUDATA

fungsi Pribadi

Fungsi pribadi adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu.
  • Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitassosial. Perilaku itu dinyatakan melalui tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal usul suku bangsa, agama, maupun tingkat pendidikan seseorang.Menyatakan Identitas Sosial
  • Menyatakan Integrasi Sosial
Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi, antarkelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan yang dibagi antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus komunikasi antarbudaya yang melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan komunikan, maka integrasi sosial merupakan tujuan utama komunikasi. Dan prinsip utama dalam proses pertukaran pesan komunikasi antarbudaya adalah: saya memperlakukan anda sebagaimana kebudayaan anda memperlakukan anda dan bukan sebagaimana yang saya kehendaki. Dengan demikian komunikator dan komunikan dapat meningkatkan integrasi sosial atas relasi mereka.
  • Menambah Pengetahuan
Seringkali komunikasi antarpribadi maupun antarbudaya menambah pengetahuan bersama, saling mempelajari kebudayaan masing-masing.
  • Melepaskan Diri atau Jalan Keluar
Kadang-kadang kita berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau mencri jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi. Pilihan komunikasi seperti itu kita namakan komunikasi yang berfungsi menciptakan hubungan yang komplementer dan hubungan yang simetris.
Hubungan komplementer selalu dilakukan oleh dua pihak mempunyai perlaku yang berbeda.[4] Perilaku seseorang berfungsi sebagai stimulus perilaku komplementer dari yang lain. Dalam hubungan komplementer, perbedaan di antara dua pihak dimaksimumkan. Sebaliknya hubungan yang simetris dilakukan oleh dua orang yang saling bercermin pada perilaku lainnya. Perilaku satu orang tercermin pada perilaku yang lainnya.

Fungsi Sosial

  • Pengawasan
Funsi sosial yang pertama adalah pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan "perkembangan" tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarlusakan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.
  • Menjembatani
Dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama. Fungsi ini dijalankan pula oleh pelbagai konteks komunikasi termasuk komunikasi massa.
  • Sosialisasi Nila
Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.
  • Menghibur
Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antarbudaya. Misalnya menonton tarian hula-hula dan "Hawaian" di taman kota yang terletak di depan HonoluluZaw, HonoluluHawai. Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan antarbudaya.

Kurang Komunikasi, Banyak Karyawan Tak Hargai Benefit dari Perusahaan


Metrotvnews.com, Jakarta: Berdasarkan survei yang dilakukan oleh perusahaan konsultan Towers Watson mengenai manfaat karyawan (benefit) se-Asia-Pasifik menggambarkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk manfaat benefit terhadap penghargaan yang diberikan untuk hal tersebut.

Survei yang melibatkan 1.145 perusahaan di 20 negara di kawasan Asia-Pasifik termasuk 62 perusahaan di Indonesia tersebut digelar untuk mendapatkan gambaran persoalan yang dihadapi oleh perusahaan terkait pemberian benefit. Survei tersebut dilaksanakan pada bulan Desember 2014 hingga bulan Januari 2015.

Director Benefits Towers Watson South East Asia Mark Whatley dalam keterangan persnya, beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa perusahaan yang ada di Indonesia merupakan pembelanja kedua terbesar setelah Filipina di wilayah Asia untuk pengeluaran benefit. Selain itu sebesar 84 persen perusahaan di Indonesia merasa terbebani dengan kemungkinan membesarnya biaya benefit akibat perubahan regulasi dari pemerintah.

Saat ini lebih dari 65 persen perusahaan di Indonesia mengeluarkan lebih dari seperempat payroll untuk membiayai benefit. Namun hal tersebut tidak berarti langsung diapresiasi oleh para karyawan mereka.

"Namun peningkatan pengeluaran benefit karyawan tidak lantas berhubungan dengan peningkatan penghargaan atas benefit tersebut oleh karyawan. Penghargaan dari karyawan atas benefit tersebut akan meningkat bila opini dari karyawan dilibatkan dalam pembentukan fasilitas benefit," tukas Mark.

Hal tersebut terlihat dengan 81 persen para pengusaha merasa bahwabenefit yang mereka tawarkan tidak begitu dihargai oleh para karyawan dan hanya 19 persen yang sangat menghargai benefit yang diberikan oleh perusahaan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena 29 persen perusahaan di Indonesia tidak mengkomunikasikan benefit yang ada kepada para karyawan mereka.

Berdasarkan Survei tersebut juga terungkap bahwa para karyawan di Indonesia lebih menghargai benefit untuk kesehatan berobat jalan (85 persen) dibandingkan dengan benefit rawat inap (77 persen) dan dana pensiun (35 persen).

Mark menambahkan, bila para karyawan dilibatkan dan dikomunikasikan akan apa saja manfaat yang dapat mereka peroleh maka hal tersebut akan secara signifikan meningkatkan value dari benefit yang diberikan. Dengan begitu para karyawan dapat menyesuaikan fasilitas benefit dengan kebutuhan mereka.

"Dengan fleksibilitas tersebut karyawan dapat menyesuaikan kebutuhannya dan bila mereka ingin meningkatkan benefit yang mereka peroleh maka tentunya perusahaan akan mengenakan biaya tambahan kepada karyawan. Namun hal tersebut justru lebih menguntungkan bagi karyawan tersebut bila dibandingkan nantinya karyawan tersebut mengurus asuransi kedua secara pribadi diluar yang diberikan perusahaan," ujar Mark.

Dengan memiliki dua asuransi tersebut maka akan meningkatkan risikodouble benefit dengan benefit yang diberikan oleh perusahaan. Tentunya hal ini akan membebani karyawan dengan biaya lain yang lebih mahal dibandingkan yang dikelola oleh perusahaan secara kolektif, di point inilah fleksibilitas dapat terlihat manfaatnya.

Ironisnya, sekitar 45 persen dari perusahaan yang ada mempertimbangkan untuk menambahkan alokasi biaya untuk benefit bagi karyawan disamping yang sudah ada sekarang ini. Mark memandang hal ini tidak diperlukan selama perusahaan dapan meningkatkan komunikasi dengan karyawan mereka agar benefit yang diberikan dapat dipahami oleh para karyawan.



Dari berita diatas, dapat ditarik 4 jawaban dari pertanyaan dibawah ini :
1.       Pokok Masalah
·         Kurangnya, bahkan tidak ada pengkomunikasian benefit yang didapat para karyawan sehingga hanya beberapa karyawan yang menghargai benefit yang diberikan perusahaan.
2.       Pihak Yang Terlibat
·         Perusahaan
·         Karyawan
3.       Solusi
·         Perusahaan harus meningkatkan komunikasi dengan karyawan mereka agar bnefit yang diberikan dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh para karyawan.
4.       Mitigasi Masa Depan
·         Karena kurangnya komunikasi mengenai pemberian benefit yang ada kepada para karyawan, karyawan menjadi kurang menghargai benefit yang telah disediakan perusahaan, intinya harus meningkatkan komunikasi antara perusahaan dan karyawan.
·         Karyawan harus dilibatkan / turut andil pada saat perundingan penetapan benefit yang akan diberikan perusahaan, dengan begitu para karyawan dapat menyesuaikan fasilitas benefit dengan kebutuhan mereka.
·         Pada saat perundingan penetapan benefit untuk karyawan, perusahaan harus selektif dalam penentuan penetapan benefit agar kedua pihak saling diuntungkan.

Kurang Komunikasi, Banyak Karyawan Tak Hargai Benefit dari Perusahaan



Metrotvnews.com, Jakarta: Berdasarkan survei yang dilakukan oleh perusahaan konsultan Towers Watson mengenai manfaat karyawan (benefit) se-Asia-Pasifik menggambarkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk manfaat benefit terhadap penghargaan yang diberikan untuk hal tersebut.

Survei yang melibatkan 1.145 perusahaan di 20 negara di kawasan Asia-Pasifik termasuk 62 perusahaan di Indonesia tersebut digelar untuk mendapatkan gambaran persoalan yang dihadapi oleh perusahaan terkait pemberian benefit. Survei tersebut dilaksanakan pada bulan Desember 2014 hingga bulan Januari 2015.

Director Benefits Towers Watson South East Asia Mark Whatley dalam keterangan persnya, beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa perusahaan yang ada di Indonesia merupakan pembelanja kedua terbesar setelah Filipina di wilayah Asia untuk pengeluaran benefit. Selain itu sebesar 84 persen perusahaan di Indonesia merasa terbebani dengan kemungkinan membesarnya biaya benefit akibat perubahan regulasi dari pemerintah.

Saat ini lebih dari 65 persen perusahaan di Indonesia mengeluarkan lebih dari seperempat payroll untuk membiayai benefit. Namun hal tersebut tidak berarti langsung diapresiasi oleh para karyawan mereka.

"Namun peningkatan pengeluaran benefit karyawan tidak lantas berhubungan dengan peningkatan penghargaan atas benefit tersebut oleh karyawan. Penghargaan dari karyawan atas benefit tersebut akan meningkat bila opini dari karyawan dilibatkan dalam pembentukan fasilitas benefit," tukas Mark.

Hal tersebut terlihat dengan 81 persen para pengusaha merasa bahwabenefit yang mereka tawarkan tidak begitu dihargai oleh para karyawan dan hanya 19 persen yang sangat menghargai benefit yang diberikan oleh perusahaan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena 29 persen perusahaan di Indonesia tidak mengkomunikasikan benefit yang ada kepada para karyawan mereka.

Berdasarkan Survei tersebut juga terungkap bahwa para karyawan di Indonesia lebih menghargai benefit untuk kesehatan berobat jalan (85 persen) dibandingkan dengan benefit rawat inap (77 persen) dan dana pensiun (35 persen).

Mark menambahkan, bila para karyawan dilibatkan dan dikomunikasikan akan apa saja manfaat yang dapat mereka peroleh maka hal tersebut akan secara signifikan meningkatkan value dari benefit yang diberikan. Dengan begitu para karyawan dapat menyesuaikan fasilitas benefit dengan kebutuhan mereka.

"Dengan fleksibilitas tersebut karyawan dapat menyesuaikan kebutuhannya dan bila mereka ingin meningkatkan benefit yang mereka peroleh maka tentunya perusahaan akan mengenakan biaya tambahan kepada karyawan. Namun hal tersebut justru lebih menguntungkan bagi karyawan tersebut bila dibandingkan nantinya karyawan tersebut mengurus asuransi kedua secara pribadi diluar yang diberikan perusahaan," ujar Mark.

Dengan memiliki dua asuransi tersebut maka akan meningkatkan risikodouble benefit dengan benefit yang diberikan oleh perusahaan. Tentunya hal ini akan membebani karyawan dengan biaya lain yang lebih mahal dibandingkan yang dikelola oleh perusahaan secara kolektif, di point inilah fleksibilitas dapat terlihat manfaatnya.

Ironisnya, sekitar 45 persen dari perusahaan yang ada mempertimbangkan untuk menambahkan alokasi biaya untuk benefit bagi karyawan disamping yang sudah ada sekarang ini. Mark memandang hal ini tidak diperlukan selama perusahaan dapan meningkatkan komunikasi dengan karyawan mereka agar benefit yang diberikan dapat dipahami oleh para karyawan. 



Dari berita diatas, dapat ditarik 4 jawaban dari pertanyaan dibawah ini :
1.       Pokok Masalah
·         Kurangnya, bahkan tidak ada pengkomunikasian benefit yang didapat para karyawan sehingga hanya beberapa karyawan yang menghargai benefit yang diberikan perusahaan.
2.       Pihak Yang Terlibat
·         Perusahaan
·         Karyawan
3.       Solusi
·         Perusahaan harus meningkatkan komunikasi dengan karyawan mereka agar bnefit yang diberikan dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh para karyawan.
4.       Mitigasi Masa Depan
·         Karena kurangnya komunikasi mengenai pemberian benefit yang ada kepada para karyawan, karyawan menjadi kurang menghargai benefit yang telah disediakan perusahaan, intinya harus meningkatkan komunikasi antara perusahaan dan karyawan.
·         Karyawan harus dilibatkan / turut andil pada saat perundingan penetapan benefit yang akan diberikan perusahaan, dengan begitu para karyawan dapat menyesuaikan fasilitas benefit dengan kebutuhan mereka.
·         Pada saat perundingan penetapan benefit untuk karyawan, perusahaan harus selektif dalam penentuan penetapan benefit agar kedua pihak saling diuntungkan.