Kamis, 25 Juni 2015

Manusia dan Tanggung Jawab

TANGGUNG JAWAB SEORANG DOKTER (Sebuah Kisah)
Seorang Dokter sedang bergegas masuk ke ruang operasi.
Ayah dari anak yang akan dioperasi menghampirinya:
"Kenapa lama sekali Anda sampai ke sini?
Apa Anda tidak tahu, nyawa anak saya terancam jika tidak segera dioperasi?" Labrak si Ayah.
Dokter itu tersenyum...
" Maaf..., saya sedang tidak di Rumah Sakit tadi, tapi saya secepatnya ke sini setelah ditelepon pihak RS..."
Kemudian ia menuju Ruang Operasi, setelah beberapa jam ia keluar dengan senyuman di wajahnya, "Syukurlah kondisi anak Anda kini stabil..."
Tanpa menunggu jawaban sang Ayah, Dokter berkata, "Suster akan membantu Anda jika ada yang ingin Anda tanyakan..." Dokter tersebut segera berlalu.
"Kenapa Dokter itu angkuh sekali? Dia kan sepatutnya memberikan penjelasan mengenai keadaan anak saya!!!"
Sang Ayah berkata pada Suster.
Sambil meneteskan airmata Suster menjawab:
"Anak Dokter itu meninggal dunia dalam kecelakaan kemarin sore, ia sedang menguburkan anaknya saat kami meneleponnya untuk melakukan operasi pada anak Anda. Sekarang anak Anda telah selamat, dan anak Dokter itu sedang disemayamkan

Kamis, 18 Juni 2015

Manusia dan Kegelisahan

Demi hari yang tak pernah melengos, laju lurus waktu, tak pernah mundur. Di belahan bumi yang gelap aku duduk di atas batu pinggiran daratan luas, angin malam menyergap kegalisahan, bulan dan bintang menemani sepi, yang sendiri. Kelelawar seliweran, satu dari mereka menghampiriku.
“Hai orang yang gelisah. Buatlah gelisahmu jadi penasaran, itu lebih baik agar kau mau bergerak, dari pada kau hanya berputar-putar dengan kagalisahanmu, diam dan cuma mendengarkan cerita kegelisahmu itu.”
“Apa maksudmu, kelelawar. Apa itu kata pendahuluanmu untuk menyampaikan sesuatu padaku, berita malam apa yang kau bawa.”
“Ya, memang. Seharusnya kau sudah bisa menebak kabar ini, karena kegelisahanmu sudah cerita berkali-kali padamu. Di daratanmu akan acara yang mengundang banyak orang, acara penyunting jilidan lontar seorang petapa.”
“Ya, itu aku tahu. Tapi apa yang mengharuskan kegelisahan ini ku jadikan penasaran. Biasa sajakan, setiap acara seperti itu pasti mengundang banyak orang dan bahkan dari luar daratan ini.”
“O, masih belum kau sadari juga cerita kegelisahmu, bahwa ada petanda yang akan datang padamu dan petanda itu dibawa oleh seseorang dari meraka yang datang  ke acara itu, mereka yang berasal dari daratan seberang. Seseorang itulah yang harus jadi penasaranmu yang nanti kau tunggu, kau cari, kau temukan. Dialah yang membawa petanda itu.”
“Siapa dia, dan petanda apa yang ia bawa?”
“Carilah sendiri dan tanyakan pada dia petanda apa yang ia bawa untukmu. Sudahlah, aku pergi, aku tak mau kau buat malam ini sia-sia untuk membicarakan hal itu denganmu, mangsaku sedang menantiku.”
“Hai kelelawar, jangan pergi dulu!”
“Cari saja sendiri, usahalah sedikit” kelelawar itu pun melesat pergi.
Pagi ini lebih cerah dari biasanya, seakan langit membocorkan udara surga ke bumi. Seperti pagi-pagi yang lalu, aku sudah duduk jigang di warung pinggir jalan simpang tiga belakang rumahku, menyeduh kopi pahit dan mencumbui rokok menthol kesukaanku. Lalu lalang pengguna jalan sudah jadi pemandangan yang biasa, jika ada yang kenal ya saling sapa, kalau tak kenal ya ku lihat cuek dia berlalu. Disaat seruputan terakhir yang paling nikmat, ada yang menyapaku,
“Hai kawan, tumben wajah gelisahmu tak seperti biasanya.”
“Hai kau, tahu apa kau tentang wajah gelisahku, kau hanya seekor anjing khafilah yang tinggal di pendopo pendeta agung. Kawan, aku sekarang tak hanya gelisah yang diam, tapi juga penasaran yang bergerak untuk berusaha menanti dan mencari seseorang.”
“Augh……  walau aku seekor anjing, tapi anjing yang lebih tahu darimu. Augh…. Siapa seseorang itu?”
“Dia salah satu orang yang akan menghadiri penyunting jilidan lontar sang petapa besok malam.”
“Augh….  Pasti seseorang yang membawa petanda untukmu, seseorang yang sering kudengar dari cerita kegelisahanmu. Tapi, bagaimana kau yakin dapat menemukan dia?”
“Aku yakin karena kegelisahanku tak pernah meleset, lagi pula aku juga dapat kabar dari kelelawar semalam.”
“Augh…. Begitu. Baiklah, selamat menunggu, penasaran!”
“Kawan, apa kau tahu tentang dia? Barang kali kau pernah dengar dari tuanmu atau sang pendeta itu.”
“O, tidak. Augh…. Sudah jangan tanya lagi, percuma aku tak tahu apa-apa tantang dia. Kalau pun tahu aku tidak akan memberi tahumu. aku pergi dulu, kawan.”
Apapun yang terjadi, aku yakin kegelisahanku akan menemukan muaranya, dan penasaranku juga akan terjawab dengan kedatangnya yang memberitahukan patanda untukku. Walau aku tahu akan ada kegelisahan lain yang muncul setelah itu. Suasana sore yang cantik berpoles jingga di kaki langit barat yang menelan matahari, semakain membuatku tak sabar menanti saat-saat itu yang tinggal semalam. O, begitu romantisnya rasa kegelisahan, penasaran membeku dalam lamunan yang terindah. Daun jatuh dipelataran pendopo pendeta agung berbisik padaku sebagai pesan terakhirnya, “Hai orang penasaran. Demi jinggaku sayang, angin menitipkan salam dari dia padaku untukmu. Semalam nanti dia akan berangkat dari daratan dengan kereta sarden ke daratan ini.”
Demi waktu jingga yang menghitam, malam yang hitamnya gagah mendekap putih bulan dan kerlip bintang, aku merasa jabatan tangan telah terjadi bersama pesan yang disampaikan daun padaku. Seperti malam yang kemarin, aku duduk diatas batu pinggiran daratan luas, angin menyergap kegelisahan, sepi, yang sendiri. Walau berkali-kali mendengar cerita kegelisahan yang sama, aku tak merasa jemu, sampai hari yang ditunggu tiba.
Pekat malam, hitamnya sayang, inilah saat yang ditunggu-tunggu semua orang. “Gong… gong… gong….” Suara gong menara padepokan, tepat sebelah kiri pendopo pendeta agung bergema ke seluruh penjuru daratan, sebagai tanda acara penyunting jilidan lontar sang petapa akan dimulai di pendopo itu. Semua orang pun berduyun-duyun datang, orang-orang sekitar daratan ini maupun daratan seberang berkumpul, duduk sama rata bersila tanpa perbedaan.  Tepat pada waktu yang telah ditentukan, Uboh rampe, hidangan di suguhkan dan segala keperluan disiapkan. Ketika suasana hikmat, acara pun dimulai.
Kehikmatan suasana dalam acara itu membuatku tak nyaman. Aku terus digerus kegelisahan, penasaran membuatku gusar tak karuan. Ditengah acara yang panjang, kejenuhan pun menghinggapi sebagian dari mereka yang ada dibarisan belakang, suasana mulai riuh, lalu melunjak gaduh oleh canda tawa, yang tak membuat barisan depan kehilangan khusyuknya. Itu sudah wajar terjadi. Kesempatan bagiku, yang juga di barisan belakang, ikut mengalir kegaduhan canda tawa mereka sembari mencari tahu tentang seorang pembawa petanda untukku. Kemudian mereka memberitahukan ku sebuah nama dan orangnya, ya, seseorang yang kumaksud.
Sejenak aku diam, kupandangi saja dia sambil mendengar kegelisahanku mengiyakan, bahwa dialah sang pembawa petanda. Lalu aku mencari cara, bagaimana aku bisa mendekatinya. Sekali ku coba melewatinya, untuk mengambil beberapa cangkir kopi. Tapi masih belum ku dapati caranya. Ku amati lagi, sambil menikmati kopi dan sebatang rokok. Ya, aku dapat, dan ini pasti berhasil. Aku yakin. Lalu ku temui cantrik padepokan yang ku kenal baik, yang duduk bersebelahan dengan dia dan sedikit babibu ku yang ramah, cukuplah jadi alasan.
“Ae… cantrik. Maaf, aku tidak bisa membantu banyak untuk acara ini”
“O, tak apalah. Dengan kehadiranmu pun sudah membantu.”
“Boleh aku diperkenalkan dengan……!?”  dengan setengah berbisik,
“O ya, kenalkan, dari daratan seberang”
“Hai, aku Nanda.”
“Kuprit.” Ku sebut namaku di perkenalan yang wajar, lalu jabatan tangan yang bukan sekedar rasa dari kegelisahan, nyata. Keakraban dari setiap perbincangan yang mengalir, membuat lupa kekhusyuan acara. Ku tawarkan rokok menthol padanya, kebetulan juga dia suka.
Waktu terus menggelinding, percakapan kami makin asyik, tak terasa acara pun usai, suasana jadi gaduh riuh. Ada yang bergegas pamit, ada yang masih ditempat untuk sekedar beramah tama, membaur keakraban satu sama lain. Yang belum kenal jadi kenal, yang belum dekat hubungannya jadi lebih akrab. Sedangkan para cantrik sibuk membereskan seluruh perlengkapan yang telah dipakai, dan mengemasi barang-barang ketempatnya masing-masing. Aku tak bergegas pulang, karena masih ada yang harus ku cari, tanda yang dibawa Nanda. Aku turut membaur ditengah para cantrik yang di pendopo, bersama orang-orang daratan seberang.
Pagi datang, hitam malam lenyap disapu matahari dengan sinarnya. Aku pun pamit pulang,  berjalan gontai, tubuhku lemas, tenaga yang terkuras begadang semalam bersama para cantrik, ngobrol dengan Nanda. Sesampai di rumah, aku merasakan kegelisahanku menjerat semakin erat, terasa begitu beda kali ini. O. aku yakin, inilah kegelisahan lain yang datang, yang sudah aku kira sebelumnya, kegelisahan baru setelah pertemuanku dengan Ciput. Ah, apa aku ini, kegelisahan yang bercampur bingung, mencari sesuatu yang belum pernah aku temui. Ya, aku harus menemui dia kembali untuk memastikan tanda apa yang dia bawa untukku, aku tak perlu khawatir, dia bilang akan tinggal di daratan ini beberapa hari, dan semalampun aku sudah sengaja membuat sedikit ikatan emosi., dengan membuat janji mengantarkan dia jalan-jalan ke taman pelangi dan mengarungi telaga endut yang menjadi terkenal di daratan ini.
Saat pagi sebentar siang, aku duduk di teras rumah, aku mendengarkan cerita dari kegelisahan baruku untuk pertama kali, aku meyakininya sebagai petunjuk mengetahui tanda yang dibawa orang dari negeri seberang itu, seperti aku meyakini cerita kegelisahanku sebelumnya. Tapi, keyakinan itu terbentur kebingungan yang tak jelas arahnya. Untuk apa tanda itu dan bagaimana rupa tanda itu, tak jelas ku ketahui dari cerita kegelisahanku.
“Hai, orang gelisah!” suara yang tak ku hiraukan, entah siapa dan darimana suara itu.
“Hai, orang gelisah!” suara itu lebih keras memanggilku, yang menyita perhatianku.
“Hai, siapa yang memanggilku itu?” balasku.
“Aku, disini, disamping kakimu, ini si lalat yang memanggilmu. Aku memperhatikanmu sejak tadi, apa sebenarnya yang kau gelisahkan?”
“Eh, kau si lalat. Untuk apa kau bertanya tentang kegelisahanku.”
“barang kali saja aku bisa membantumu untuk mencari jalan keluar dari kegelisahanmu itu. Aku hanya kasihan saja padamu. Kita hidup saja, sudah susah, apalagi ditambah dengan kegelisahan yang membuat mandegnya perjalanan kita meneruskan hidup, ya paling tidak itu menyita, dapat kesia-siaan saja. Kasihan.”
“Tahu apa kau tentang kegelisahanku, aku takkan memberitahu siapapun tentang kegelisahanku, dan juga kau. Kau tak perlu berkhotbah tentang hidup didepanku”
“Brrrr…. hai kawan, tak perlu emosi. Aku hanya mengingatkan saja, bahwa kegelisahan hanya membebani hidup kita saja.”
“O, begitukah pendapatmu tentang kegelisahan. Ku hargai pendapatmu dan terimakasih kau mengingatkan aku. Tapi sayang, aku tak perlu mendengarkanmu. Hidupmu saja tak punya warna, bagaimana kau mengerti tentang kegelisahan dalam hidup. Kau hanya bisa membuat kegelisahan, dengan berseliweran membuat suara berisik dan hinggapi makanan-makanan setelah kau hinggapi kotoran, jijik.”
“Brrrr….  Wessst. Emosi!? Lalu apa pendapatmu tentang kegelisahan itu sendiri, sehingga kau anggap itu adalah warna untuk kau torehkan diatas kanvas, untuk membuat penggalan pesan dalam sejarah hidupmu, agar kau dianggap aktor sandiwara top, padahal kau tak berarti apa-apa dalam catatan kehidupan, yang begitu panjang dan melelahkan untuk di eja.”
“Haah… berisik! pusing, pusing kepalaku ini mendengarkan ocehanmu.” Lalu aku pergi meninggalkan lalat itu.
“Ting tang…. Ting tang…” jam  2 siang, aku bergegas pergi menemui Nanda untuk memenuhi janjiku. Aih… kesempatan. Ku hampiri dia yang sudah menunggu di depan gapuro pendopo, siap untuk menjejakkan kaki, menelusuri jalan menuju taman pelangi dan telaga endut. Langkah demi langkah jejak kami menindih jejak lama, menghentak tanah seperti membuat prasasti kesaksian pada bumi. Suara-suara kami ditangkap dengan sigap oleh angin dan dihempaskan ke segala penjuru lalu di tempelkan di setiap permukaan daun-daun, bagaikan ukiran dinding goa. Ada warna-warna yang muncul begitu saja menghiasi sayap-sayap peri, hitam-putih, biru-jingga, merah-ungu bermotif batik seperti kupu-kupu yang baru bebas  dari serat kepompongnya, terlihat begitu indah di taman pelangi.
Angin berhembus romantis, terasa begitu mesra membelai tubuh kami saat duduk berdua di tepi danau endut yang nampak berkilau jingga, kejernihan sempurna memantulkan warna senja. Terbius decak kagum pada alam, demi Tuhan yang telah menciptakan keindahan dengan guratan-guratanNya yang tak pernah mampu dibaca sempurna oleh manusia. Cita rasa Sang Maha Indah takkan pernah tertandingi. Di luas langit, ada puncak rasa-rasa yang terbang bersama burung-burung pipit yang kembali ke sarangnya diatas pohon. Lelah perjalanan tak mampu menembus kepuasan rasa pada hati yang disemai bunga oleh peri-peri.
Demi malam yang hitamnya gagah memeluk bulan dan kerlip bintang,  putihnya semakin mempesona, aku antar dia kembali ke pendopo, melepas lelah semalam lagi sebelum kembali dia pamit. Serabut bayangannya menerobos mimpi, sungguh ia membuat jaring di sudut ruang, seperti laba-laba hitam mencuri cela angin-angin kamarku. Malam ini, aku sedang tak ingin duduk diatas batu. Aku ingin semalam ini hanya dalam kamarku, duduk menghadap kanvas putih dan mengoleskan warna-warna kegelisahan, yang tak pernah menemukan muaranya. Ku gambar tanda-tanda itu sebagai penggalan cerita terindah sepanjang suratan napasku.
Perpisahan setelah pertemuan  sudah wajar harus diterima, rela atau tidak rela, kulepas kepergiannya dengan do’a, kembali ke daratan asalnya. Demi waktu yang akan berakhir tanpa akhiran, cerita-cerita kegelisahan itu kosong dan akan tetap sama hingga kegelisahan bertemu muaranya.

Kebahagiaan dengan ke Sedihan

Ini kisahku lebih tepatnya kisah cinta yang berakhir buruk, aku bahkan tidak tau apakah setelah ini aku masih bisa merasakan cinta, bagiku cinta itu indah tapi juga kadang menyakitkan, kisah ini berawal dari pagi yang cerah, “kriiinggg”. Alaram hp aku berbunyi, aku bangun dari tidur panjangku, segera aku mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah, perkenalkan nama aku ria aku sekarang duduk di bangku sekulah kelas 1 sma, aku berangkat menuju sekolah kesayanganku.
Aku berangkat sekolah bersama sahabat ku yang bernama jilly dia adalah sahabat pertama ku di masa sma, tak perlu waktu lama tepatnya aku sudah berada di dalam kelas, hal yang paling aku tunggu di dalam kelas adalah kedatangan teman-teman baruku dan orang yang aku suka, aku duduk di bangku paling depan sambil melamunkan seseorang tiba-tiba lamunku di pecahkan oleh sapaan seorang sahabatku yang bernama jilly. “selamat pagi” sapa jilly. “hy… pagi juga” jawabku. “kamu tuh pagi pagi udah melamun, ngelamunin apa ayo, pasti ngelamunin dia ya… ayo ngaku” tanya jilly. “ngak kok, aku cuma lagi mikirin tentang sesuatu”, ucap bohongku. “sudahlah aku bisa melihat matamu, jika kamu menatapnya, kamu memberikan pandangan yang berbeda” ucap jilly. “benarkah, ya sudahlah ayo keluar” ucapku untuk mengalihkan pembicaraan. “ya baiklah ayo” jawab ria.
Aku dan jilly pun keluar dari kelas, di luar kelas aku dan jilly melihat risma, dia juga salah satu sahabat baruku. Setelah kami bertiga berkumpul, kami kembali berjalan jalan.
Tak lama kemudian “kriing… kriing…” bel sekolah berbunyi, aku, jilly, risma berlari untuk kembali ke kelas. Saat aku berlari aku tak sengaja bertemu dengan angga, alias cowok yang aku suka, aku pun berjalan kembali ke kelas bersama angga, angga orang yang aku suka duduk di samping bangku ku.
Tak lama kemudian guru ips masuk ke kelas menandakan bahwa pelajaran akan segera dimulai. Aku, jilly dan risma, menjalani setiap pelajaran dengan serius, tapi tetap saja hati dan fikiranku masih memikirkan tatapan mata angga yang terlihat memandangiku tadi, aku selalu bertanya dalam hati “apakah angga menyukai aku?” dari tadi hanya pertanyaan itu yang ada di pikiranku dan di hatiku.
Setelah lama mengikuti pelajaran akhirnya bel istirahat pun berbunyi “kring…” semua siswa keluar dari kelas, kecuali aku dan angga. Bunyi bel tersebut membuatku melangkah keluar dari bangku dan berjalan menuju bangku angga. Setelah aku berada di bangku angga aku ditatap oleh angga dengan tersenyum, akhirnya aku memberanikan diri berkenalan kepada angga “angga lulusan smp mana?” “aku lulusan dari smp wisata” jawab angga, aku hanya berbasa basi kepada angga padahal aku ingin minta nomer hp nya.
Tak lama kemudian bel pulang sekolah berbunyi “diing doong” mendengar bel itu aku berjalan menuju kelas untuk mengambil tas ku dan setelah itu pulang. Di jalan aku bertemu angga, dan dia sedang menunggu temannya. Rasanya hatiku dek dekan, angga pun memanggilku, “hai riia?” sapa angga. “hai.. Juga” jawab aku. “berapa nomor hp kamu?” tanya angga. “085738987653”, ucapku sambil tersenyum dan di dalam hati meraskan bahagia. “terimakasih ria nanti aku hubungin” ucap angga.
Setibanya aku di rumah, “tilulitt” hpkupun berbunyi, ternyata angga yg menelponku, “kamu ada acara nanti malam?” sapa angga. “enggak ada kok, emangnya kenapa angga?” jawabku. “ada yang mau aku omongin nanti aku jemput ke rumah jam 7 ya” jawab angga. “iya aku tunggu”. Rasanya hatiku sangat senang sekali dan tidak percaya kalau angga ingin bertemu langsung denganku.
Jam 7 pun tiba, “riia…” sapa angga sambil menaiki motor. “iya aku kesana sekarang tunggu” jawabku dengan hati yang yang sangat gembira. “angga kita mau kemana” sapaku karena ingin tau. “iya pokoknya aku pengen ngungkapin yang ada di hatiku” jawab angga sambil tersenyum. “aku pun penasaran apa angga ingin menembak ku?” tanya dalam hatiku.
Angga pun memegang kedua tanganku dan berkata, “aku menyukaimu saat pertama aku melihatmu di sekolah”. “aku pun juga mengatakan hal yang sama terhadap angga, “aku juga suka sama kamu saat pertama kali aku melihatmu” jawab aku sambil malu-malu dan tersenyum bahagia. “jadi kamu nerima aku untuk jadi pacarmu?” jawab angga. “iya” jawabku sambil tersenyum.
Setibanya aku di rumah, hari ini hari jadianku sama angga, aku merasakan sangat senang malam ini, semua terasa seperti mimpi.
Hubunganku sama angga sangat harmonis dan romantis, 2 bulan pun berlalu, aku merasa ada yang berubah dari diri angga dia sudah tidak pernah peduli dengan keadaanku lagi bahkan dia juga jarang balas sms atau bbmku, aku pun menelpon dia. “angga maumu apa sih? Aku sudah tidak bisa bersabar lagi, kamu sudah berbeda dari yang dulu” jawabku sambil menangis. “aku merasa hubungan ini tidak bisa di lanjutkan lagi” jawab angga langsung mematikan telfon nya. “tiiitt”.
Hari-hari ku pun aku lalui walaupun dengan perasaan sedih, walaupun tidak bersama dirimu lagi orang yang aku sayang dan aku cintai dulu kini sudah pergi meninggalkanku, hanya kesedihandan kesepian yang mengisi hari-hariku.

Harapan Ibu Terhadap Anaknya

Orang tua itu adalah orang yang sangat berjasa dalam kehidupan kita, seperti contoh seorang ibu dia dengan bersusah payah mengandung kita selama 9 bulan, kemudian setelah kita lahir ke dunia ini beliau mengurus kita sedari bayi rela mengorbankan waktu nya untuk kita, mengurus kita sampai saat ini, memberikan kita sebuah cinta yang abadi, cinta yang takkan pernah tergantikan.

Dan seorang ayah dia adalah orang yang dengan bersusah payah, memeras keringat, membanting tulang hanya untuk menafkahi istri dan anak – anaknya, bekerja siang malam tak kenal lelah berharap anak istrinya mendapatkan kehidupan yang layak dan nyaman.

Lantas kewajiban apa yang dapat kita lakukan untuk kedua orang tua kita ?

1.     Berbakti kepada orang tua.

Qs 46 (Al Ahqof) :15.
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang sholeh yang Engkau ridhoi;
berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Terjemah Al Ahqof diatas sudah sangat jelas memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua kita.

2.   Hormat dan mematuhi orang tua.
Hormat dan menghargai kepada keduanya, merendahkan suara dan memuliakan keduanya dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tidak menghardik dan tidak mengangkat suara di atas suara keduanya, tidak berjalan di depan keduanya, tidak mendahulukan istri dan anak atas keduanya, tidak memanggil keduanya dengan namanya namun memanggil keduanya dengan panggilan, “Ayah, ibu,” dan tidak bepergian kecuali dengan izin dan kerelaan keduanya.
Dan ada hadits Nabi Muhammad SAW: “Tidak termasuk golongan umatku, mereka yang (tua) tidak menyayangi yang muda, dan mereka yang (muda) tidak menghormati yang tua”
(Riwayat at-Turmudzi).
Jika seorang anak tidak melakukan penghormatan, maka ia disebut anak durhaka. Ini merupakan dosa besar, yang diancam masuk neraka.
Dalam suatu hadits disebutkan: “Diantara dosa-dosa besar adalah menyekutukan Alloh, durhaka kepada orang tua, membunuh dan menyatakan sumpah palsu”. (Riwayat Bukhori).
Seorang laki-laki bertanya kepada Rosululloh SAW,” Ya Rosululloh, Siapa yang paling harus aku hormati ? ” Rosululloh SAW menjawab,”Ibumu”.
Laki-laki itu bertanya lagi,
“Kemudian siapa lagi ?”
Rosululloh SAW menjawab,”Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi,
“Kemudian siapa lagi ?”
Rosululloh SAW menjawab,”Ibumu”.
Laki-laki itu bertanya sekali lagi, “Kemudian siapa ? Rosululloh SAW menjawab,”Bapakmu”. (Shohih Bukhori).
Rosululloh SAW bersabda, “Surga ada dibawah telapak kaki ibu.”

3.   Memuliakan orang tua

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia” (QS. Al-Isro’, 17: 23.)
Karena kedua orang tua, terutama ibu, telah mengawali melakukan kewajiban dengan kasih sayang yang dilimpahkan.
Sejak anak masih berupa bayi, bahkan masih dalam kandungan, hamil dengan penuh kesusahan, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik dan menafkahi. Semua itu merupakan bentuk kasih sayang yang telah dilakukan kedua orang tua
(Lihat: QS. Luqman, 31: 14 dan QS al-Ahqof, 46: 15).
Jadi, tinggal anak yang berkewajiban untuk menghormati dan memuliakan kedua orang tuanya.

4.   Rawat dan jagalah mereka dengan penuh cinta
Masyarakat Indonesia sekarang ini, banyak anak yang enggan menyisihkan sebagian waktunya, mengucurkan keringat atau sekadar berlelah-lelah sedikit, untuk merawat orang tuanya
yang sudah ‘uzur’. Terutama sekali, bila anak tersebut sudah berkedudukan tinggi, sangat sibuk dan punya segudang aktivitas.
Akhirnya, ia merasa sudah berbuat segalanya dengan mengeluarkan biaya secukupnya, lalu memasukkan si orang tua ke panti jompo!!
Apakah itu sepadan dengan apa yang dilakukan oleh orang tua terhadap kita dahulu sejak kita masih dalam kandungan sampai pada saat ini, dimana mereka menjaga, merawat kita dengan penuh cinta, kasih sayang, orang tua yang rela tidak tidur semalaman
demi menjaga kita,membanting tulang untuk memberi kita makan, pendidikan dan hidup yang layak.
Apakah dengan memasukan kedua orang tua kita ke panti jompo atau semacamnya itu pantas untuk semua pengorbanan yang telah di lakukan oleh orang tua terhadap kita, seharusnya kita bisa menjaga mereka dikala mereka sudah renta, mungkin kita tidak akan pernah bisa membalas semua pengorbanan orang tua kita sejak dahulu akan tetapi hendak lah kita tunjukan rasa cinta kita, rasa sayang kita terhadap kedua orang tua kita dengan menjaga,
merawat mereka dengan penuh cinta ketika sudah renta sebagaimana apa yang telah mereka lakukan terhadap kita.
Orang tua kita selalu memberikan yang tebaik untuk kita, apakah kita bisa melakukan yang baik untuk orang tua kita.

5.   Mendoakan kedua orang tua.
Wahai Rosululloh, apakah aku masih mempunyai kewajiban bakti kepada orang tua yang harus aku kerjakan setelah kematian keduanya?”
Rosululloh SAW. bersabda, “Ya ada, yaitu empat hal: mendoakan keduanya, memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji keduanya, memuliakan teman-teman keduanya,
dan menyambung sanak famili di mana engkau tidak mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dari jalur keduanya.
Itulah bentuk bakti engkau kepada keduanya setelah kematian keduanya.” (HR Abu Daud).
Salah satu dari tanda cinta kasih kita kepada ibu adalah munculnya pengharapan agar si ibu selalu hidup berbahagia.
Bila ia sudah meninggal dunia, kita juga senantiasa mendoakannya, serta memohonkan ampunan untuknya.
Suatu hal yang sangat wajar apabila orangtua memiliki suatu harapan terhadap anak-anaknya, justru sangat aneh rasanya bila ada orangtua yang tidak memiliki harapan apapun terhadap anak-anaknya. Saya tahu, sebagian diantara kita ataupun orangtua kita mungkin memiliki banyak keinginan dan harapan yang tinggi kepada anak-anaknya. Dan itu bukanlah sesuatu yang salah selama harapan-harapan itu tidak keluar dari koridor tuntunan ajaran agama.  Dan dari sekian banyak hal yang diharapkan oleh orangtua, jika disederhanakan mungkin hanya akan menjadi 3 harapan utama, yakni :


1. Tumbuh Dewasa dan Menjadi Orang yang Soleh

Ya, terlepas dari seperti apa kita atau anak-anak kita di masa perkembangannya, orangtua hanya berharap, bahwa kelak ketika anak-anak itu dewasa pada akhirnya bisa menjadi orang yang soleh yang patuh dan taat terhadap ajaran agamanya. Terlebih bagi kita yang beragama Islam, sedangkal apapun pemahaman kita dan sekecil apapun pengamalan kita terhadap ajaran agama itu, kita pasti berharap agar anak-anak kita kelak bisa lebih dari kita, lebih memahami dan lebih banyak mengamalakan ajaran agama itu.

Patut kita renungkan dan kita pertanyakan kepada diri kita sendiri apabila kita tidak memiliki keinginan dan harapan seperti itu. Sungguh, orangtua akan jauh lebih bangga saat anaknya menjadi pejabat, menjadi pimpinan perusahaan, menjadi pengusaha dan orang sukses atau hebat lainnya, tetapi sekaligus juga menjadi orang yang soleh.

Ini harus disampaikan dan dijadikan pedoman utama bagi anak-anak kita agar mereka tidak kehilangan arah dalam mencapai tujuan hidupnya setelah dewasa kelak. Tidak sedikit mereka yang masa kanak-kanaknya rajin beribadat, patuh dan taat kepada orangtua, tetapi kemudian akibat pengaruh lingkungan ataupun semakin lemahnya pengawasan orangtua, malah tumbuh berbelok menjadi orang yang sebaliknya. Hal ini mungkin tidak akan terjadi manakala anak-anak sudah memiliki pedoman yang pasti tentang harus seperti apa mereka setelah menjadi dewasa nanti. Dan inipun menjadi sebuah pertanyaan bagi diri kita sendiri, sudahkah ita menjadi orangtua yang soleh seperti yang diharapkan orangtua kita ? atau jangan-jangan malah kita sendiri belum tahu, seperti apakah orang yang soleh itu ? dan akan lebih mengerikan lagi apabila kita tidak atau belum memiliki sedikitpun keinginan untuk menjadi orang yang soleh ! Naudzubillah, semoga tidak demikian. 
Ingat firman Allah SWT dalam surat Al A’raaf ayat 179, yang artinya :
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al A’raaf: 179)


2. Hidup Sehat & Bahagia

Harapan kedua dari orangtua adalah anak-anaknya selalu dalam kondisi sehat dan hidup dalam kebahagiaan. Itulah mengapa banyak orangtua yang rewel dan gelisah manakala si kecilnya sulit makan, sulit disuruh tidur siang, sulit minum susu, dan sulit-sulit lainnya. Hal itu pulalah yang menyebabkan orangtua selalu menginginkan anak-anaknya masuk rangking di sekolah, mengikuti berbagai kegiatan, mengikuti berbagai les, belajar berbagai keterampilan, dan sebagainya yang diharapkan akan menjadi bekal di masa depannya. Hanya saja pertanyaan selanjutnya adalah, apakah hal itu harus dipaksanakan ?

Tidak sedikit orangtua yang memaksa anak untuk makan, tidur siang, minum susu, vitamin dan sebagainya hanya karena ingin anaknya terlihat gemuk padahal mereka sebenarnya sudah sehat. Tidak sedikit pula orangtua yang memaksa anaknya untuk ikut les berbagai pelajaran, mengikuti berbagai kegiatan, mengikuti kursus berbagai keterampilan, padahal sebenarnya belum urgent untuk anak-anak pada usia itu sehingga menjadikan anak malah merasa tersiksa menjalaniya. Tentu hal ini harus kita kaji ulang kembali dan meluruskan pemahaman yang benar mengenai anak yang sehat dan hidup bahagia itu sendiri.

Untuk masalah kesehatan mungkin tidak sulit, karena banyak parameter-parameter yang dikeluarkan para ahli kesehatan mengenai seperti apa anak-anak yang sehat, yang kemudian bisa kita jadikan acuan perlu tidaknya kita memaksakan sesuatau dengan alasan demi kesehatan anak. Namun untuk kebahagiaan itu sendiri, setiap orang mungkin memiliki parameter yang berbeda, termasuk parameter bahagia yang ditetapkan orangtua terhadap anak. Sekiranya masih ada alternatif lain, sekiranya jalan yang akan ditempuh anak masih sedemikian panjang dimana segala sesutu hal masih sangat memungkinkan terjadi dalam proses pencapaian hidup bahagia itu, mengapa kita harus selalu memaksakan segala sesuatunya dengan alasan untuk kebahagiaan mereka ?

Mungkin hal yang benar-benar harus kita sadari dan kita camkan kepada anak-anak kita adalah bahwa kebahagiaan itu tidak hanya bisa diperoleh melalui uang atau materi atau pangkat dan jabatan. Diluar semua itu masih ada hal lain yang bisa membuat hidup lebih bahagia, yakni jiwa yang bersih, hati yang tentram, serta rasa syukur atas segala nikmat dan karunia-Nya. 

Benarkah demikian ? mari kita tanya diri kita, apakah anda akan bahagia dengan sepeda motor yang anda miliki manakala anda merasa iri melihat tetangga yang memiliki sebuah mobil ? Apakah anda bahagia dengan benda-benda mewah yang ada di rumah anda manakala setiap saat hati anda gelisah karena takut didatangi perampok ? Apakah anda bahagia dengan uang ratusan juta rupiah yang anda miliki tetapi seminggu sekali anda harus cuci darah ?

Intinya uang, materi, pangkat, jabatan, dan sejenisnya memang bisa membuat hidup bahagia selama itu bisa memberikan jiwa yang bersih, hati yang tentram, dan selalu kita syukuri. ; akan tetapi di sisi lain, tanpa uang, materi, pangkat, jabatan dan sejenisnya, selama itu bisa membuat jiwa bersih, hati tentram, dan selalu bersyukur, itupun bisa membawa kebahagiaan yang hakiki. Tetapi tentu saja inipun jangan disalah artikan. Saya hanya sekedar ingin menekankan bahwa orientasi orangtua dalam membuat anak hidup bahagia seharusnya bukan lagi pada materi, pangkat ataupun jabatan, melainkan pada bagaimana agar anak kelak memiliki jiwa yang bersih, hati yang tentram, dan selalu mensyukuri segala nikmat yang diberikan-Nya. 
Mari kita perhatikan firman Allah SWT dalam ayat-ayat berikut, yang artinya :
“Dan jiwa dan apa yang oleh Allah dijadikan untuk menyempurnakannya. Maka Ia mengilhamkan kepadanya yang salah dan yang taqwa (benar), maka sungguh beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dan sungguh merugilah yang mengotori jiwanya”. (QS.As-Syams : 7-10)

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingatAllahlah hati menjadi tentram”. (Q.S Ar-Ra’d (13):28).

“Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Q.S Ali Imran (3):126, (QS. al-Anfal (8):10)

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizkinya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”. (QS An Nahl (16):112).

Jumat, 05 Juni 2015

Manusia dan Kewajibanya

Hai, 

cerita diatas menunjukkan '' cerita klasik '' dari kehidupan bagaimana seorang anak harus berbakti kepada orang tua. 

dan saya membaca semua komentar diatas, hanya mewakili cerita '' si malin kundang '' dalam sangkarnya tanpa keluar dari karung cerita klasik se-isi dunia dengan suka dan dukanya 

marilah kita membuka mata hati kita dan melebarkan kuping nyali kita akan cerita yang nyata ini. 
cerita ini untuk membuktikan bahwa '' tradisi didalam dunia ini '' tentang kasih orang tua' hanyalah kamuflase dari banyak cerita yang sebenarnya. 


'' George adalah seorang pengusaha terkenal, jabatan marketing direktur disandangnya pada sebuah Bank terkenal di eropah. 
George memiliki istri yg cantik,dua anak yang manis-manis. 
kehidupan yang '' wah ''. 
tetapi ada yang kurang pada George, sejak ia mengerti membaca dan menulis dia tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya, jangankan ayahnya siapa ibu yang melahirkan dia tidak pernah dia tahu. 

alkisah terjadilah perseteruan antara George dengan orang tua yang ternyata bukan orang tua kandung, ternyata mereka orang tua adopsi. 
'' Aku telah memperingatkanmu George, tetapi kau berkeras hati ! '', demikian peringat ibu adopsi George. 

bermulalah avountur seorang Geroge dalam mencari siapa biologis orang tuanya. 

sebuah programa televisi membantu George dalam pencaharian ini - '' berhasil ! ''. 

35 km sebelah selatan dari kota Magelang tersebutlah seorang wanita dengan 3 orang anak dan seorang suami. 
suaminya bekerja sebagai karyawan PNS pada PEMDA 

negosiasi terjadi, dan hasilnya ; '' benar suami istri itu adalah 
orang tua kandung George ''. 
28 tahun yang silam mereka menyerahkan seorang bayi laki-laki pada sebuah rumah yatim piatu dengan balasan 25ribu rupiah. 

kini anak yg berharga 25riburupiah itu berada jauh beribu-ribu kilometer, dan kini datang mencari dimana sepasang suami istri yang telah '' membuangnya hanya untuk jumlah 25riburupiah ''. 

pendek kata, karena orang tua tidak mau kehilangan muka sebagai PNS dan juga hubungan keluarga yang tidak mau tercemar, '' MEREKA MENYANGKAL George SEBAGAI DARAH DAGING MEREKA ''. 

jangan ditanya bagaimana hancur dan sakit hati George, 
bersimbah air mata dan putus harapan. 
orang tua yang telah membuatnya- melahirkannya- menjualnya, kini mentah-mentah menolaknya, hanya karena 
malu, takut hilang muka karena status. 

pertanyaan saya ? '' bagaimana kompensasi cerita diatas dengan perbuatan orang tua sendiri yang mentah-mentah menyangkal darah dagingnya ? '' 

apa arti '' KASIH SAYANG ORANG TUA SEPANJANG MASA ? '' 


mau tahu apa yang George lakukan, '' Oh hidupku didunia tiada artinya, tiada gunanya kalau aku disangkal keberadaanku oleh orang yang melahirkan aku didunia !. 
dengan tenang tetapi pasti George menyerahkan nyawanya kepada Tuhan Yang Kuasa ditengah rel kereta api. 
selesailah cerita George yang tragis, yang mencari cinta kasih dari orang tua yang melahirkannya hanya untuk sebuah '' kepastian '', kepastian yang mempunyai arti dan dampak yang besar bagi George sebagai seorang manusia. 

setelah kematiannya yang sia-sia, datanglah pengakuan orang tua nya tetapi sayang TERLAMBAT. 

ach! manusia-manusia dengan EGOISME yang sia-sia. 

terimakasih